Teknik Produksi Benih Ubi Jalar Bebas Virus Menggunakan Kultur Meristem

Teknik Produksi Benih Ubi Jalar Bebas Virus Menggunakan Kultur Meristem

Ubi jalar merupakan salah satu komoditas pangan target Gratieks (Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor) yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.Si., M.H.. Permintaan ekspor ubi jalar terus mengalami peningkatan ditengah pandemi, baik dalam bentuk segar maupun olahan.

Penyediaan benih ubi jalar yang berkualitas (jelas identitas genetiknya, daya tumbuh baik, dan bebas hama penyakit) diperlukan untuk mendukung hasil ubi jalar yang sesuai pasar ekspor.

Perbanyakan benih ubi jalar yang dilakukan secara vegetatif menggunakan batang / sulur rentan terinfeksi oleh virus, sehingga menyebabkan virus terakumulasi dari generasi ke generasi, menyebabkan terjadinya penurunan viabilitas, produksi serta kualitas ubi jalar.

Teknologi kultur jaringan mempunyai prospek digunakan untuk perbanyakan cepat bahan tanam yang bebas hama dan penyakit (Tegen dan Muhammed 2016).

Gejala tanaman yang terinfeksi virus di lapang meliputi perubahan warna: bercak klorotik, mosaik, belang (mottle) berwarna ungu, perubahan bentuk (malformasi) daun, hambatan pertumbuhan (kerdil), dan daunnya berwarna kecoklatan.

Berdasarkan uji serologi dilaporkan terdapat enam jenis virus yang menyerang tanaman ubi jalar yaitu Sweetpotato Feathery Mottle Virus (SPFMV), Sweetpotato Mild Mottle Virus (SPMMV), Sweetpotato Chlorotic Fleck Virus (SPCFV), Sweetpotato Latent Potyvirus (SPLV), Sweetpotato Virus-6, dan Sweetpotato Virus-8 (Saleh et al. 2015).

Penyakit yang disebabkan virus menjadi lebih membahayakan karena menyebabkan penurunan hasil, kualitas, dan resistensinya terhadap serangga hama (Yang 2010). Penurunan hasil akibat serangan virus dilaporkan berkisar antara 65 – 72% (Daurov et al. 2018).

Gambar 1. Tanaman ubijalar yang terserang virus

Produksi stek bebas virus diperlukan untuk menyediakan benih yang lebih baik kualitasnya. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk menghasilkan benih ubi jalar bebas virus yaitu menggunakan kultur meristem secara in vitro.

Isolasi bagian meristem apikal, yaitu bagian tunas pucuk yang masih aktif membelah yang selanjutnya dikulturkan secara in vitro. Penggunaan tanaman bebas virus juga sangat dibutuhkan dalam konservasi plasma nutfah ubi jalar, sebagai upaya pelestariannya. Bagian meristem apikal yang digunakan untuk tanaman bebas virus seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Meristem apikal ubi jalar

Langkah-langkah produksi benih ubijalar bebas virus secara in vitro diawali dengan penyiapan umbi, setelah disterilisasi kemudian ditumbuhkan tunas umbinya pada media tanah steril. Deteksi virus dapat dilakukan dengan metode Elisa.

Tanaman yang terdeteksi terserang virus selanjutnya dilakukan kultur meristem untuk memperoleh tanaman bebas virus. Tanaman yang bebas virus kemudian diperbanyak melalui kultur in vitro, seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Proses produksi tanaman bebas virus
Persiapan Bahan Eksplan

Umbi hasil panen disterilisasi dengan cara dicuci dengan air mengalir dan direndam ke dalam larutan detergen cair konsentrasi 20 ml/l selama 30 menit, kemudian umbi direndam pada larutan fungisida dengan konsentrasi 2 g/l selama 30 menit.

Gambar 4. Pertumbuhan tunas umbi

Umbi dibilas dengan air steril kemudian dikering anginkan. Umbi yang sudah disterilkan diletakkan di bak/wadah dan ditempatkan dengan kondisi suhu kamar sampai muncul tunas. Umbi ubi jalar yang sudah tumbuh tunas kemudian dipindahkan ke media tanah steril, setelah tiga minggu tunas dapat digunakan sebagai bahan eksplan seperti pada Gambar 4 dan 5.

Gambar 5. Tunas umbi ditumbuhkan pada media tanah steril
Managed & Maintenanced by ArtonLabs