
Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ni Wayan Aryani,mengungkapkan hasil risetnya terhadap naskah manuskrip Bali yang ia peroleh dari beberapa perpustakaan pemerintah dan pribadi di Bali. Dalam naskah tersebut tersurat informasi tentang pemanfaatan ramuan dari tumbuh – tumbuhan untuk dijadikan obat tradisional.
Wayan memaparkan informasi mengenai perawatan kecantikan wanita pasca melahirkan, seperti yang tertulis dalam naskah-naskah seperti Lontar Rukmini Tatwa, Lontar Taru Pramana dan naskah Lontar Reksi Sambika. Hal tersebut ia sampaikan dalam Forum Diskusi MLTL bertemakan “Tampil Cantik, Sehat, dan Berkarakter dengan Ramuan Tradisional” yang digelar secara daring pada Rabu (26/06).
Pengetahuan tersebut sangat penting untuk sarana pendidikan dalam menambah wawasan pengetahuan tentang cara pengobatan, dan perawatan kecantikan secara tradisional yang bersifat herbal. “Di dalam naskah – naskah manuskrip tersebut diinformasikan bagaimana cara merawat, jenis perubahan, bahan herbal yang digunakan, cara pengolahan, serta tata cara atau teknik pengobatannya,” ungkapnya.
Di Indonesia tambah Wayan, banyak tercipta solusi atau alternatif untuk perawatan tersebut baik secara modern maupun tradisional. “Pada masa sekarang ini, perawatan modern banyak tersedia di salon – salon dan klinik kecantikan yang menyediakan fasilitas seperti laser, suntik, dan perawatan lainnya yang menggunakan bahan kimia. Hal tersebut sangat mudah mendapatkannya, namun wanita harus waspada terhadap risiko negatifnya. Maka dari itu, kecenderungan wanita menghindari risiko tersebut menempuhnya dengan perawatan tardisional,” bebernya.
Alifah Asri Elina, Praktisi Jamu Borobudur Semarang mengemukakan tentang pemakaian obat – obatan herbal yang alamiah untuk merawat kecantikan. Standar kecantikan menurut pandangannya tidak hanya putih dan mulus di kulit saja, namun definisi cantik itu sendiri membuat kulit yang sehat dan terawat.
“Dengan menjaga dan merawat kecantikan maka seorang wanita makin meningkat kepercayaan dirinya. Seorang wanita akan tampil cantik dengan riasan kosmetik dan perawatan yang dewasa ini disebut dengan skincare,” ulasnya.
Alifia menyampaikan bahwa skincare tersebut tidak hanya merawat wajah, namun juga tubuh lainnya, seperti kulit tubuh dan rambut. Ia menilai bahwa setiap perempuan akan berjuang untuk tetap tampil cantik. Apalagi dewasa ini kesadaran untuk kembali ke alam atau back to nature mulai meningkat. “Banyak dari masyarakat menginginkan kandungannya dari botanical atau herbal. Kebetulan indonesia dikarunia sumber daya herbal melimpah,” ujarnya.
Alifia menerangkan beberapa bahan herbal yang digunakan seperti bengkuang, rasbbery, akar manis, temulawak, kunyit, jahe, dan sebagainya. Baik tumbuhan maupun buah – buahan tersebut mempunyai banyak khasiat seperti mencerahkan kulit, meremajakan kulit, dan sebagainya. Dimana semua itu tersedia melimpah di bumi indonesia ini.
Ia pun mengingatkan tentang bahan -bahan berbahaya dan terlarang dalam perawatan kecantikan seperti mercuri dan hidrokuinon. “Akan aman jika kita menggunakan obat – obatan herbal yang sudah ada labelnya. Di Indonesia sudah banyak produsen kosmetik yang mengeluarkan produk herbal dan dijamin aman bahannya karena sudah teregistrasi di Badan POM,” tegas Alifia.
Senada dengan hal tersebut Peneliti senior Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Yuli Widiyastuti, menjabarkan hasil risetnya tentang penggunaan obat tardisional untuk perawatan pasca persalinan. Ia menuturkan hasil surveinya di berbagai etnis di indonesia tentang permasalahan kesehatan pasca persalinan, kajian ilmiah terhadap tanaman obat yang digunakan, serta menjabarkan data penggunaan ramuan tradisional oleh masyarakat dari berbagai etnis tersebut.
Yuli menekankan, betapa pentingnya angka kematian ibu sebagai salah satu indikator dari pembangunan kesehatan di Indonesia, dalam hal ini Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). “Dua indikator ini menjadi target yang ingin dicapai banyak negara, karena angka kematian itu jd tolok ukur terkait dengan kemampuan dan mutu pelayanan kesehatan secara umum,” imbuhnya.
Lalu bagaimana dengan kondisi di indonesia? Yuli menyebutkan target SDG’s 2030 dengan AKI sejumlah 70/ 100.000 Kelahiran Hidup (KH) dan AKB sejumlah 12/1000 KH. Kemudian ia menjelaskan hasil sensus penduduk tahun 2020, di indonesia masih melebihi target tersebut, yakni masih pada angka masih 89/100.000 KH untuk AKI dan 16,85/1000 KH untuk AKB. Adapun dari data Kementerian Kesehatan sendiri pada 2023 meningkat dari tahun sebelumnya, yakni AKB dari jumlah 20882 menjadi 29945 sedangkan AKI dari 405 menjadi 4129.
Kondisi tersebut lanjut Yuli menjadikan Indonesia di ASEAN berada pada posisi nomor 3 terbawah. Artinya, masih memerlukan berbagai upaya di berbagai sektor dan membutuhkan dukungan riset inovasi dari bagaimana bisa menurunkan dua indikator tersebut. Hal itu penting karena di indonesia masih banyak kasus – kasus seperti stunting, serta nilai AKI dan AKB yang masih meningkat. Maka ini membuka peluang bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal dalam rangka meningkatkan mutu layanan kesehatan ibu dan bayi.
“Selain memperhatikan kecantikan pasca melahirkan, wanita juga harus mempersiapkan mulai semenjak pra konsepsi yakni mempersiapkan kehamilan, masa kehamilan itu sendiri, sampai dengan pasca persalinan,” pungkas Yuli.