
Varietas unggul kedelai merupakan hasil pemuliaan yang mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil yang lebih tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, mutu produk baik dan atau sifat-sifat lainnya, yang telah dilepas oleh pemerintah. Pola budidaya kedelai di Indonesia pada umumnya ditanam pada musim kemarau pertama dan kedua, dan pada proses penanamannya kerapkali terhambat oleh adanya kendala keterbatasan air, periode tanam pendek serta pola tanam petani.
Hal itu disampaikan Gatut Wahyu Anggoro Susanto, Peneliti Ahli Utama pada Pusat Riset Tanaman Pangan, ORPP BRIN, saat memberikan paparan berjudul “Perakitan Varietas Unggul Kedelai Umur Genjah melalui Pendekatan Pemuliaan Konvensional” pada acara Webinar Teras TP #6 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional dengan tema “Teknologi Perakitan Varietas Unggul Kedelai Menghadapi Dampak Perubahan Iklim,” pada Kamis (04/07).
Dirinya menjelaskan sebagai upaya penanggulangan kendala budidaya kedelai, maka penanaman kedelai umur masak polong genjah dapat menjadi alternatif mengingat terdapat berbagai keunggulan berupa berpeluang meningkatkan intensitas tanam atau indeks pertanaman (IP), meningkatkan hasil, serta memperkecil resiko kegagalan panen.
Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menghasilkan kedelai umur masak polong genjah tersebut adalah melalui pendekatan genetika melalui sisi pemuliaan dengan merakit varietas unggul umur genjah dengan produktivitas tinggi.
“Pemuliaan tanaman merupakan ilmu dan seni yang mempelajari bagaimana memperoleh atau merakit suatu tanaman menjadi lebih baik dan menguntungkan dengan tujuan untuk memperbaiki sifat-sifat tanaman pada karakter kuantitatif maupun kualitatif. Bidang ini erat kaitannya dengan ilmu genetik untuk meningkatkan nilai tambah suatu tanaman dengan memanfaatkan interaksi genetik dan lingkungan sehingga diperoleh tanaman dengan karakter yang diinginkan,” imbuh Gatut.
Metode pemuliaan tanaman dapat dilakukan secara konvensional dan inkonvensional. Metode konvensional dilakukan melalui persilangan buatan, introduksi, dan induksi mutasi. Sedangkan metode inkonvensional dilakukan melalui kloning gen atau penyalinan gen agar dapat menerima sifat unggul tertentu yang berasal dari spesies tanaman lain, melalui marka molekuler dengan mengurutkan DNA tertentu pada sebuah genom dan berguna untuk identifikasi spesies tertentu, melalui transfer gen dengan memasukan gen dengan jenis organisme berbeda menuju ke DNA tanaman, dan tanaman transgenik.
Lebih lanjut Gatut menjelaskan bahwa tahapan perakitan varietas dengan menggunakan metode konvensional diawali dengan pemilihan tetua sesuai tujuan, persilangan buatan, penggaluran/seleksi, uji daya hasil, uji interaksi galur dan lingkungan. “Pada tahap penyilangan kedelai untuk tujuan umur genjah, yang pertama dilakukan adalah menentukan tanaman yang akan disilangkan yaitu tanaman genjah yang memiliki umur masak kurang dari 80 hari, memilih bunga yang siap disilangkan yaitu bunga tetua betina yang belum mekar, kemudian membuang benang sari, dan pada tahap ini kepala putik harus utuh, sedangkan untuk tetua jantan pilihlah yang sudah mekar. Sebaiknya proses ini dilakukan antara pukul 07.00 – 15.00,” tuturnya.
Langkah selanjutnya adalah mengambil tepungsari dari tetua jantan (yang dikehendaki) untuk dilakukan penyerbukan, memberi penanda (label), dan menunggu proses pembentukan calon polong. Setelah dua hari biasanya akan terlihat bakal polong yang terbentuk, sedangkan polong yang tidak terjadi polinasi akan mengering, selanjutnya polong mulai berkembang dan akan memasuki fase generatif hingga mencapai waktu panen ketika kulit buah polong telah berwarna kuning kecoklatan.
Selanjutkan akan dilakukan proses pembentukan galur yang diawali dengan tahapan seleksi. Umumnya kedelai yang ditanam di Indonesia pembentukan galur dilakukan melalui seleksi pedigree (silsilah), keunggulannya adalah hanya keturunan tanaman unggul saja yang dilanjutkan pada generasi selanjutnya, pemusatan gen-gen pada galur yang unggul/baik, memudahkan penyeleksian, sebab pada setiap generasi diadakan seleksi sehingga tanaman tidak terlalu banyak, penghematan lahan percobaan serta silsilah dari suatu galur dapat diketahui.
Namun demikian, seleksi pedigri ini juga memiliki kelemahan yaitu memerlukan banyak catatan dan pekerjaan, memungkinkan terdapat galur baik yang terbuang, karena pada galur generasi awal masih bersegregasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi efektifitas seleksi antara lain jarak tanam lingkungan makro maupun interaksi genotipe dengan lingkungan.
Adapun untuk karakteristik pertumbuhan varietas kedelai umur genjah adalah memiliki periode vegetatif yang singkat, biasanya kurang dari 35 hari setelah perkecambahan. Selain itu, pertumbuhan cepat dan sesuai dengan musim tanam yang pendek serta pertahanan terhadap cekaman lingkungan yaitu mampu bertahan dan tumbuh baik pada lingkungan yang memiliki tekanan cekaman lingkungan seperti kekeringan atau tanah yang kurang subur.