Ini Penyebab Ekonomi Tumbuh Tapi Bisnis Peternakan Masih Lumpuh

Ini Penyebab Ekonomi Tumbuh Tapi Bisnis Peternakan Masih Lumpuh

Pandemi Covid-19 meluas setelah ditemukan kasus pertama di Indonesia pada Maret 2020 dan diikuti dengan adanya kebijakan pengendalian penyebaran melalui pembatasan sosial. Hal ini berdampak luas pada pelayanan tidak hanya pada pelayanan kesehatan namun berpengaruh terhadap kondisi sosial dan ekonomi tak terkecuali pada peternakan di Indonesia. 

Hal itu diungkapkan Diana Andrianita Kusumaningrum, Peneliti Ahli Muda PR Peternakan BRIN dalam paparannya berjudul “Assessing the Impact of COVID-19 Pandemic on Small-holder Poultry Farm Business” pada Webinar Risnov Ternak#6: “Ekonomi Tumbuh, Bisnis Peternakan Masih Lumpuh. Ada Apa?” yang dihelat Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (28/11). 

“Peternak skala kecil paling terdampak oleh pandemi Covid-19 karena permodalan yang kecil dan posisi tawar pada suplai produksi dan penjualannya juga terbatas,” tutur Diana.

Dari hasil penelitian yang dilakukan di sentra peternakan ayam ras yang ditentukan berdasarkan data populasi tertinggi di Indonesia (BPS 2021), Diana menyimpulkan pandemi Covid-19 berdampak pada penurunan populasi dan produksi pada awal pandemi dan terjadi kenaikan setelahnya. 

“Biaya operasional berupa pakan dan tenaga kerja mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19. Tingkat keuntungan usaha ayam petelur menurun selama awal pandemi dan meningkat setelahnya, menunjukkan adanya ketahanan dan kemampuan adaptasi usaha pasca pandemi dan tingkat keuntungan usaha ayam broiler terus menurun selama pandemi belum menunjukkan adanya pemulihan pasca pandemi,” papar Diana.

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, Diana merekomendasikan untuk menyediakan peraturan yang dapat melindungi peternakan kecil, mendorong pembentukan dan penguatan kelembagaan peternak ayam, menyediakan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah untuk mengembangan industri prosessing produk unggas untuk menciptakan diversifikasi pasar melalui pengolahan dan pengawetan produk unggas, dukungan dari pemerintah dalam pengembangan sistem pemasaran online untuk produk unggas dan kebijakan pemerintah dalam memastikan keberlanjutan dan stabilitas produk dan harga 

Webinar tersebut menghadirkan pula narasumber Ketua IV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Asrokh Nawawi yang membawakan materi “Ekonomi Tumbuh, Bisnis Peternakan (Perunggasan) Masih Lumpuh?”  dan Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), drh. Nanang Purus Subendro dengan materi “Isu Strategis Peternakan Sapi dan Kerbau 2024”.

Ketua IV GPPU, Asrokh Nawawi mengatakan, “Kontribusi produk unggas mencapai 2/3 dari konsumsi protein asal ternak oleh Masyarakat Indonesia, menyumbang 60% terhadap PDB peternakan, berkontribusi 80,77% terhadap total produksi ternak, dan menyerap sekitar 10% dari tenaga kerja nasional dengan omzet mencapai 700 triliun per tahun. Artinya, industri peternakan sangat penting untuk untuk mendukung pertumbuhan ekonomi makro dan mikro. Jadi kalau industri ini lumpuh, dampaknya sangat fatal bagi perekonomian dan kesejahteraan Masyarakat.” 

“Sebenarnya berdasarkan data produksi dalam lima tahun terakhir, produksi daging dan telur ayam ras terus meningkat setiap tahun. Untuk produksi daging ayam ras tahun 2023 sudah mencapai 3,9 juta ton meningkat sekitar 200 ribu ton dibanding tahun 2022, dan untuk produksi telur 2023 sudah mencapai 6,1 juta ton dibanding 5,6 juta ton pada tahun 2022,” tambah Asrokh.

“Tetapi mengapa industri perunggasan terseok-seok? Karena 1) ada peningkatan impor Grans Parent Stock yang menyebabkan pasokan DOC melebihi kebutuhan, 2) naiknya harga sapronak yang menyebabkan biaya produksi meningkat, 3) efek dari pengetatan kebijakan moneter berpengaruh ke pengeluaran konsumsi menurun; dan 4) panjangnya mata rantai pasok dan belum siapnya industri perunggasan untuk melakukan hilirisasi” kata Asrokh Nawawi.

“Untuk industri ternak sapi dan kerbau permasalahan yang dihadapi adalah 1) adanya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) serta lumpy skin disease (LSD); 2) kebijakan depopulasi dan restocking ternak menekan tingkat risiko wabah PMK dan LSD yang lebih mematikan bagi seluruh ekosistem peternakan, 3) regenerasi peternak muda yang lambat, 4) industri perbibitan yang kurang menguntungkan, dan 5) lemahnya daya beli Masyarakat,” kata Nanang Purus Subendro, Ketua PPSKI.

Lebih lanjut Nanang mengatakan bahwa, “Saat ini industri peternakan sapi di Indonesia didominasi oleh peternak kecil yang jumlahnya mencapai 63,74%, sisanya dikuasai oleh peternak skala menengah (29,1%) dan besar (7,1%). Pengelolaan sapi yang dilakukan oleh peternak kecil masih menggunakan cara-cara tradisional yang kurang menguntungkan. Sehingga perlu ada perubahan paradigma dari pemeliharaan secara tradisional ke pemeliharaan secara intensif lebih menguntungkan”    

Pada akhir webinar, Arnold Parlindungan Sinurat, Peneliti Ahli Utama PR Peternakan selaku moderator memberikan kesimpulan bahwa industri unggas seperti ada anomali. Produktivitasnya terus meningkat namun peternak malah merugi. Hal itu disinyalir karena tidak diimbangi dengan faktor lain, yaitu demand yang kenyataannya cenderung stagnan. Sementara itu di usaha peternakan sapi biaya produksi meningkat tapi tidak diikuti dengan peningkatan harga jual. Sehingga nilai tukar peternak menurun.”

Menghadapi masalah yang dihadapi peternakan, Arnold menyarankan agar BRIN lebih berperan menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pelaku usaha peternakan. Untuk itu diperlukan kerjasama antara BRIN dengan industri dan pihak yang lain. “Penelitian untuk meningkatkan produksi dan efisiensi usaha juga perlu ditingkatkan. Namun tidak sekedar efisiensi, terutama adalah bagaimana agar peternak mendapatkan keuntungan. Penting untuk BRIN agar jemput bola untuk ikut mencari solusi yang dihadapi pelaku usaha peternakan khususnya para peternak,” tutupnya.

Sumber: https://www.brin.go.id/news/116952/ini-penyebab-ekonomi-tumbuh-tapi-bisnis-peternakan-masih-lumpuh

Managed & Maintenanced by ArtonLabs